Orang-Orang Bloomington by Budi Darma

Posted on 2 Oktober 2017

0


Saat itu saya tertarik membaca buku Atheis karya Achdiyat K Miharja, meskipun di database tersedia, namun saya tidak menemukan buku itu pada raknya di perpustakaan pusat Universitas Indonesia. Saya kemudian melihat buku-buku yang tersedia, dan pilihan saya jatuh ke Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis dan Orang-Orang Bloomington karya Budi Darma ini. Saya memutuskan mengambil Orang-Orang Bloomington ini karena pada edisi cetak ulangnya terdapat testimoni dari Eka Kurniawan dan Leila S. Chudori J

Buku ini berisi 7 buah cerpen dengan judul karakter-karakter tokoh yang menjadi lawan main tokoh utama (aku, di sini penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. ketujuh cerpen tersebut menggambarkan pergulatan batin tokoh utama dalam menghadapi karakter2 yang ditemuinya. Pergulatan batin tersebut dapat menjadi metafora pemikiran2 yang dimiliki oleh manusia yang sepertinya ditemui dan masih akan ada sejak jaman dahulu hingga sekarang. Kalau kata penulis dalam kata pengantar: bahwa semua individu akan terjerat oleh usia tua atau ketimpangan lain, dan inilah suatu keniscayaan.

Dalam Laki-Laki Tua Tanpa Nama, tokoh utama mencoba membunuh kesepiannya dengan meng-kepo-i seorang laki2 yang berperilaku aneh, dimana karena kecurigaan si penulis, yang diceritakan kepada para tetangga yang sebenarnya tidak suka turut campur urusan orang lain, mengakibatkan para tetangga tersebut ikut mencurigai laki2 tersebut.

Dalam Joshua Karabish, tokoh utama (penikmat puisi tapi tidak dapat menulis puisi) memiliki sahabat, seorang penyakitan dan introvert, yang suka mengarang puisi. Namun puisinya tidak dia terbitkan, karena menurut pendapatnya penyair harus memenuhi 2 syarat: sanggup menulis puisi baik dan mempunyai kepribadian yang menarik. Dan dia merasa belum memiliki syarat yang kedua. Jika suatu saat timbul niat untuk menerbitkan puisinya, dia akan menggunakan nama orang yang sudah meninggal. Hingga suatu saat, Joshua meninggal, dan tokoh utama menemukan puisinya, pada saat yang bersamaan ada lomba membuat puisi. Apa yang akan dilakukan tokoh utama? J

Dalam Keluarga M, tokoh utama (yang tidak bercita-cita mempunyai anak) terganggu dengan adanya 2 anak menyebalkan dari keluarga miskin yang berkeliaran di apartemennya, yang dia curigai telah membaret mobilnya. Karena saking bencinya, si tokoh utama melakukan segala cara agar keluarga tersebut pindah ke apartemen lain. Walau upaya-upaya tersebut gagal, keluarga M tersebut akhirnya mendapat musibah karena peristiwa di luar konspirasi si tokoh utama. Di situlah si tokoh utama merasa “suwung” yang digambarkan sebagai berikut:

Saya tetap tidak mengerti bagaimana perasaan saya sendiri. Pada waktu berjalan, seolah-olah saya merasa tidak menapak di atas lantai. Pada waktu makan, kadang2 saya lupa mengunyah, dan baru mengunyah setelah saya sadar lagi. Dan setelah membaca sesuatu, saya sering lupa apa yang telah saya baca. Sehabis nonton televisi, saya juga tidak tahu apa yang habis saya tonton. Dan pada waktu akan berangkat tidur, saya baru sadar bahwa kompor di dapur belum saya matikan. Dan setelah saya berangkat tidur lagi, saya ingat bahwa saya belum mematikan radio, dan seterusnya.”

Dalam Orez, tokoh utama menceritakan kehidupan percintaannya dengan sorang wanita yang merasa tidak pantas dia cintai karena memiliki genetika pembawa kelainan (semua saudaranya memiliki anak yang mengalami kelainan, begitu juga saudara ibunya). Si pacar dan ayahnya berulang kali menanyakan kesungguhannya dengan kondisi tersebut, namun si penulis tetap meyakinkan di pacar dan ayahnya bahwa dia memang bersungguh mencintai si pacar. Akhirnya mereka menikah. Beberapa kali keguguran. Dan akhirnya memiliki anak, bernama Orez, yang memiliki kelainan. Cerita ini menggambarkan perasaan di tokoh utama menghadapi Orez dan istrinya.

Dalam Yorrick, si tokoh utama, yang introvert, menceritakan perasaannya dalam menghadapi seorang teman yang supel, yang berhasil menarik hati wanita yang dicintainya. Tokoh utama merasa Yorrick seakan memiliki takdir untuk mendapat apa yang seharusnya dimiliki tokoh utama. Bagaimanapun berusaha, tokoh utama selalu gagal. Lalu apa yang akan dilakukan si tokoh utama dalam menghadapi “takdir” itu?

Dalam Ny. Elberhart, tokoh utama memiliki hasrat kepo terhadap seorang wanita tua yang hidup sendiri di Jalan Jefferson, karena suatu kejadian unik. Hasrat kepo tersebut menuntunnya hingga dia menjadi dekat dengan Ny. Elberhart. Tokoh utama berkesimpulan Ny. Elberhart adalah wanita yang sanagt diperbudak oleh egonya. Dia ingin melindungi dirinya sendiri dari segala kesalahan dengan jalan melemparkan sumber kesalahan tersebut kepada orang lain (misal mengapa dia tidak punya anak). Dia juga ingin namanya tetap dikenang setelah dia tidak ada. Hingga akhirnya kedua orang tersebut memiliki saling ketergantungan. Si tokoh utama merasa dia ditulari penyakit dari Ny. Elberhart. Saat Ny. Elberhart meninggal, dia mewariskan kekayaannya kepada tokoh utama, yang diserahkan kepada Yayasan Orang Tua. Saat itu, tokoh utama merasa kasihan kepada Ny. Elberhart, dan dihantui pertanyaan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya dia menulis puisi dan mengirimkan ke berbagai media dengan menggunakan nama Ny. Elberhart sebagai penulisnya. Namun, puisinya tidak jua ter-terbitkan. Sekali waktu pernah dimuat di satu majalah cuma-cuma, Primo. Dan hanya sekali itu, tidak berkelanjutan.

Dalam Charles Lebourne, tokoh utama berinteraksi dengan ayah kandungnya, yang sudah sekian lama tidak bertemu. Dulu ayahnya adalah playboy, mencintai wanita, lalu meninggalkannya. Dari cerita ibunya, tokoh utama menggambarkan ayahnya sebagai seorang yang sangat confidence. Namun, kini dia sudah tua, dan masih merasa dirinya confidence (bergaya hidup di atas kemampuan), walaupun didera penyakit gallblader. Sampai kemudian, keduanya terjalin suatu love-hate relationship. Si ayah dengan egonya dan si anak dengan perasaan dendamnya. Siapa yang akan menang?

Tokoh utama digambarkan memiliki karakter dengan metafora “memiliki wajah yang mengganggu dirinya sendiri” dengan uraian sebagai berikut:

Karena itu, melihat wajah saya sendiri akhirnya menjadi kebiasaaan yang memperbudak saya. Anadaikata wajah saya tidak menyiratkan apa-apa, saya tidak keberatan. Dan, anadaikata wajah saya hanya tampak murung, mungkin saya juga tidak keberatan. Yang merisaukan saya adlah setiap kali saya melihat wajah saya, saya merasakan bahwa semua yang saya kerjakan tidak pernah selesai, seolah saya ditakdirkan selalu sibuk, tapi tidak mempunyai arah. Apa pun yang saya kerjakan tidak pernah menjadikan saya menjadi lebih baik. Perkembangan hidup saya datar, tidak pernah naik, sekolah saya tidak pernah gagal. Setiap kuliah saya selesaikan dengan baik. Gelar sarjana muda dapat saya selesaikan tepat pada waktunya, demikian pula gelar sarjana. Saya tidak pernah terlambat masuk kuliah, mengerjakan ujian, menulis paper, skripsi, dan lain-lain. Baik pada waktu upacara pelantikan sarjana muda maupun sarjana saya dimasukkan ke dalam golongan “mereka yang lulus dengan hasil sangat baik selama sekolah, hampir seamanya saya dibebaskan dari uang sekolah, mula-mula karena saya “anak orang tidak mampu”, kemudian saya “anak yatim”, dan akhirnya saya “anak pandai”. Predikat pertama dikenakan ketika ibu saya masih hidup, yang kedua ketika dia sudah meninggal akibat kecelakaan mobil, dan yang ketiga setelah saya masuk universitas.

Saya tahu mengapa saya dianggap sebagai seorang GIMAN, selalu berhasil. Saya tidak pernah melalaikan paa yang dititahkan oleh guru saya. Pada waktu ujian, misalnya, saya tahu bahwa sebetulnya saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan lebih baik. Tapi, karena waktu saya terbatas, saya cukup menyelesaikan apa adanya, asal meloncatisyarat untuk lulus. Demikian juga pada waktu menulis paper. Saya tahu bahwa saya masih dapat memperbaiki paper tersebut, mencoret kalimat-kalimat tidak perlu, menambah argumentasi, merombak organisasi logika, dan sebagainya. Demikian juga skripsi saya, baik untuk gelar sarjana muda maupun sarjana. Saya yakin bahwa andaikata saya mau, saya dapat menyiapkan kedua skripsi tersebut untuk diterbitkan sebagai buku. Tapi, setiap saya menyelesaikan sesuatu, saya dikejar untuk menggarap pekerjaan lain. Dengan demikian, saya merasa semua yang saya kerjakan mogol, tidak mencapai apa yang seharusnya saya selesaikan. Dan, perasaan ini menyakiti hati nurani saya. Hampir selamanya, saya tidak pernah merasa tenang. Di satu pihak saya ingin menyempurnakan hasil kerja saya, dan di pihak lain saya ingin menggarap soal lain yang memang tidak dapat saya elakkan. Misalnya saja, dapatkah saya mengabaikan kuliah-kuliah saya untuk mencapai gelar sarjana, sementara saya menyempurnakan skripsi sarjana muda saya supaya skripsi ini dapat saya terbitkan sebagai buku? Saya harus memilih. Dan, pilihan yang gampang adalah: apa adanya, asal selesai.”

Sedangkan karakter di ayah, digambarkan sebagai berikut: “kesimpulan saya: pada waktu bekerja Lebourne tampak gagah, tapi sebetulnya menderita. Sudah sering saya bekerja sama dengan orang2 semacam dia. Selamanya mereka harus main sandiwara demi menutupi kebodohannya atau kemalasannya. Mereka mondar-mandir, membawa ini-itu, selalu kelihatan tidak pernah menganggur, tapi sebetulnya tidak pernah menyelesaikan apa-apa. Dan, seperti beberapa di antara mereka, Lebourne juga minta diladeni. Dia sendiri tidak bisa masak, tapi ingin makan enak. Kalau dia sendiri yang memasak, dia tidak berkeberatan makan ayam panggang mentah atau gosong, tapi kalau orang lain yang memasak, dia tidak mau makan sembarangan.”

Iklan
Posted in: Book