Friday Night with Hugo Cabret, George Melies and an Adventure to the History of Movie

Posted on 19 Maret 2012

1


Jumat sore lalu, aku rasa capeek banget pulang kerja. Sebenarnya masih ada tunggakan kerjaan di kantor, Tapi aku tinggal aja, aku butuh istirahat. Dan tanpa sengaja, aku tertidur ba’da Maghribnya, dengan pintu kamar masih terbuka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara jejak kaki mendekat, semakin mendekat,,,, dan aku mendengar nafas berat seorang pria. Mataku masih tertutup, seperti di-lem. Ingin aku membukanya, tapi tak bisa. Aku panic dalam ketidakberdayaan.

Kurasakan tangan seseorang itu meraih leherku. Dilingkarkannya jemari tangannya disana, seoalh ingin mengangkatnya ke suatu tempat yang lain. Dan lingkaran jemarinya semakin kuat, berubah menjadi cekikan di leher kecilku, seperti lilitan ular cobra. Aku semakin panik dan mulai memproduksi bulir-bulir keringat di dahi.

Tapi cerita di atas hanya fiksi, rekaan sahaja dari diriku yang iseng ini.😀

@@

Jadi ba’da maghrib itu aku tertidur ketika sedang membaca buku bahan skripsi. Tertidurnya sampe ba’da Isya. Belum mandi, apalagi gosok gigi. Belum makan malam apalagi makan sore. Belum pake cream malam. Belum nyuci motor juga. *lah jadi kemana-mana*

Bangun malam itu, jadi nglangut. Mandi. Trus nyari makan. Nyoba maya otos grobak yang di kranggan. Mmmm,,, nyammm. Kuliner di Kranggan emang gak pernah mengecewakanku. J

Lalu, karena temen kos pada belum balik juga, akhirnya muncul keinginan untuk menyalurkan hasrat nonton film di bioskop yang entah sudah berapa bulan tidak tersalurkan. Sendirian, akhirnya pergilah aku ke Paragon. Sudah ada tujuan film apa yang ingin kutonton, karena aku lumayan update dengan berita film terbaru. Malam itu adalah untuk pertama kalinya kau pergi nonton ke bioskop sendirian.

@@

Jadi film yang beruntung malam itu, karena ditonton oleh orang seperti aku (#dikeplak) adalah,,,, taraaaaa,,,, beri applause,,,, “HUGOOOOOO”. Masuk nominasi Best Picture di Oscar 2012, tentu bagus dong ya? Menang 5 kategori teknis dan dibuat dalam format 3D, tentunya sia-sia kalo cuma ditonton di laptop yang monitornya belum bisa 3D dong ya?

Aku menduga bahwa film ini gak bakalan penuh, dan bener aja, walau belinya udah mendekati jam J-nya, masih ada seat yang nyaman buat nonton. Pas di tengah-tengah. Dan di samping seat yang aku beli sudah ada orang yg beli tiket di pinggir. Gak ada temennya. Sendirian juga kayaknya. Hihi

Untuk urusan yang penting aja, aku sukanya melakukan tepat waktunya. Maka sisa 30 menit menjelang film mulai, aku memanfaatkan waktu untuk pergi ke perpustakaan Gunung Agung. Baca-baca buku investment sebentar. Enath kenapa aku malah baca yang investment dengan berkebun emas. Kirain beda, ternyata sama aja pake system rahn (gadai).

Mendekati menit M film mulai, aku balik ke bioskop. Dan astagadragon-nya ternyata film-nya sudah mulai. Padahal kalo di tiket, tulisannya film mulai jam 21.20. Saat itu aku datang jam 21.15.  Pelajaran moral nomor 67 yang saya dapat hari ini adalah, kalau nonton di bioskop yang jadwalnya di atas jam 9, pastikan kamu datang 30 menit lebih awal. Walau sebenarnya saya gak tau filmnya sudah mulai berapa menit.

Scene yang saya tampil saat saya datang adalah pada saat Hugo dimarahi oleh Mr George si pemilik took mainan. Lalu Hugo dikejar satpam stasiun. Lalu Alhamdulillah,,,, baru muncul kredit title-nya. Berarti aku gak terlalu telat dong ya?

@@

HUGO berkisah mengenai perjalanan seorang anak kecil yatim piatu bernama Hugo, yang berusaha mengisi hari-harinya di stasiun bersama pamannya, yang berprofesi sebagai pemelihara mesin jam-jam yang banyak terdapat di stasiun. Mereka berdua hidup di loteng slah satu stasiun.

Paman Hugo orangnya pemabuk. Kayak Hobo gitulah. Saat dia ada, gak ada yang memerhatikannya. Dan saat dia menghilang, gak ada juga yang mencarinya (kok agak-agak kayak gue ya?🙂. kecuali kalo jam-jam di stasiun sudah ada yang bermasalah, berarti tandanya dia gak ada.

Bagaimana kalau Paman Hugo menghilang, dan Hugo melanjutkan tugasnya merawat mesin jam? Tentu tidak ada yang mencari paman Hugo. Dan itulah yang terjadi. Hugo tidak menemukan kemana pamannya pergi meninggalkannya.

Pada saat itu, semua anak kecil wajib ada pengampunya. Jika diketemukan seorang anak kecil tidak memiliki wali (pengampu), maka dia akan dijebloskan ke panti asuhan, yang saat itu dikesankan sangat menyeramkan bagi Hugo.

Hugo memiliki sebuah robot rusak peninggalan satu-satunya dari ayahnya. Dia berhasrta untuk memperbaikinya, sebagaimana apa yang diinginkan ayahnya dulu. Tapi sayang, buku petunjuk peninggalan ayahnya dirampas oleh Mr George. Cerita berlanjut sampai perkenalan Hugo dengan Isabelle, yang tak lain adalah anak perempuan keponakan sekaligus anak yang diampu oleh Mr George.

Hugo dan Isabelle bekerja sama untuk mengambil kembali buku catatan peninggalan ayah Hugo, serta memperbaiki robot rusak di atas. Usaha itu ternyata membawa mereka ke petualangan mengenai asal usul film pada zaman dahulu.

@@

Hugo adalah film yang indah. Tidak rugi menontonnya di bioskop.

Salah satu yang patut diketahui adalah Tokoh Mr George Meilles ternyata adalah nyata. Dan ada hubungan yang sangat erat antara dunia film dengan dunia sulap. Semuanya memanfaatkan indra penglihatan manusia, yaitu mata. J

@@

Malam itu, jam 11 malam, sendirian aku pulang. Suasana paragon malam-malam gitu, sudah gelap. Tapi masih ada beberapa pekerja yang sedang merenovasi outlet-outlet yang baru akan dibuka. Sayang aku lupa untuk mengambil gambar suasana malam itu. L

Menyenangkan juga berpetualang malam-malam gini. Lain kali mungkin aku akan mengulanginya. J

@@

Hugo Cabret: I’d imagine the whole world was one big machine. Machines never come with any extra parts, you know. They always come with the exact amount they need. So I figured, if the entire world was one big machine, I couldn’t be an extra part. I had to be here for some reason. 

@@

This film is so beautiful, especially when it comes to eiffel tower scene like this:

 

Ditandai:
Posted in: Movie, my story