Tujuan Gue Apa?

Posted on 20 Februari 2012

2


Beberapa hari yang lalu, saya dapat pinjem dari mbak noerazhka buku Untuk Indonesia yang Kuat : 100 Langkah Untuk Tidak Miskin yang ditulis oleh Ligwina Hananto. Bukunya sangat menggugah dan menyadarkan. Terutama kalimat “tujuan lo apa?” yang seakan sudah jadi trademark si pengarang. Berhubung saya sudah tidak asing sama mbak Wina ini (ah, sok SKSD aja), jadi akan saya membuat sebuah dialog imajiner mengenai interaksi saya dan isi buku ini.

Dalam dialog ini, saya menggunakan huruf F untuk si penanya, dan A untuk mewakili aku.

F : Apakah anda sudah tau Ligwina Hananto sebelum membaca buku ini? sudah berapa lamakah anda tau?

A : Wah, terhitungnya sudah cukup lama saya tau Mbak Wina. Awalnya, pas jaman-jaman kuliah dulu saya ini kerjaannya suka dengerin radio. Berawal dari Prambors yang lama-lama makin garing, akhirnya saya pindah jadi pendengar setia HardRock FM. Ada Pandji+stenny Agustaf, Iwet Ramadhan+Rahmah Umayya, Bayu Oktara + DJ Noxx, dll. Nah, pas acara Drive n Jive, yang sore-sore, dibawain sama Iwet Ramadhan + Rahmah Umayya kan suka ada program financial clinic dan Career path tuh.

Kalo Financial Clinic narasumbernya Aidil Akbar, Kalo Career Path narasumbernya Rene Suhardono. Gue paling suka kalo ada acara gituan. Seiring berjalannya waktu, Financial Clinic dan Financial Wisdom sering dibawain sama Mbak Wina ini. Saya kira Mbak Wina ini masih satu perusahaan sama Mas Aidil Akbar, ternyata beda ya? #Barutau🙂

F : Jadi Anda tau Wina dari Radio ya? Apakah hasil mendengarkan radio itu mampu memberikan gambaran pada anda?

A : Yap. Tapi namanya acara di radio ya, apalagi dibawain dengan gaya santai dan ngocol gitu, jadinya hanya setengah-setengah ilmu yang terserap. Dari Career Path, pesan yang saya dapet adalah “Lo harus bekerja sesuai dengan Passion”. Dari Financial Clinic, pesan besar yg saya dapat cuma “Lo Harus Menabung”. Gak tau menabungnya dimana, atau pakai produk apa. Walau saat itu mbak Wina sudah sering banget ngomong “Tujuan Lo Apa?”. Berhubung belum punya penghasilan tetap, saat itu gue sama sekali gak ngerti maksud kalimat itu apaan. Haha😀

F : Haha, jadi anda sudah bekerja sekarang. Dan apa makna kalimat “Tujuan Lo Apa?” sudah dapat anda tangkap?

A : Yah, begitu kurang lebihnya. Namun proses pencarian makna itu tidak gampang dan dalam waktu yang singkat. butuh lama, bung! #alah

Ketika awal bekerja, fokus gue tentu ya gimana biar bisa bekerja maksimal dong. Gua gak mikirin gaji buat apaan. Gak mikirin biaya hidup, apalagi masa depan. Yang penting gue menabung gitu aja. Tanpa tujuan yang pasti. Nah ketika dana terkumpul, bingung kan uang ini mau buat apaan. Berhubung, gue bukan anak hedon, akhirnya ya kebanyakan buat keluarga sih. Hehe

Jadi yang terpatri dalam benak gue saat itu adalah menabung, menabung, dan menabung. Smapai suatu saat, saya pengen beli rumah. Dan asal tahu saja, harga rumah di Semarang itu gak bisa di nalar (kata beberapa orang), mahhhaaalll buanget. Dari situ gue mikir, kapan bisa beli rumah kalo harganya mahal-mahal banget kayak gini.

F : Jadi anda pengen punya rumah awalnya?

A : Ya iyalah, siapa coba orang di dunia ini yang pengen punya rumah sendiri?

Dari situ kemudian gue membuka kembali tabungan gue yang salah satunya dalam bentuk unitlink. Dari berbagai komentar mengenai unitlink yang saya dapat dari internet, akhirnya saya menutup akun unitlink tersebut. Dan mulai mempelajari mengenai dunia Financial Planning. Awalnya sih dari blognya mas Aidil Akbar (yang mana ternyata situs itu sekarang sudah di-suspend), namun dari blog itu masih rasanya kayak awaang-awang banget dunia per-financial planning-an itu. Agak-agak gak mudeng gue!

Dan saat twitter lagi nge-booming, tersesatlah saya pada akunnya mbak ligwina hananto ini. Ternyata dari penjelasan di twitter, pencerahan semakin dapat gue rasakan (#alah). Mbak Wina sering njawab pertanyaan dari followernya dengan lugas dan to the point, sehingga gue sedikit banyak bisa mendapatkan gambarannya bagaimana.

F : Lalu?

A : Nah, lalu saya juga terjebak di situs ini. Di situs itu, Mbak Wina juga membantu memberikan gambaran agar kita bisa membuat tujuan keuangan. Pengennya sih ikut kelasnya QM juga, tapi gak ada di Semarang tuh.

Jadi pada intinya, gue itu jangan hanya sekedar menabung. Menabung musti ada tujuannya. Misal buat dana pensiun, beli rumah, kendaraan, dll. Namanya tujuan juga pasti punya tenggat waktu kan? Nah, dari situ, kita diajak mbak Wina untuk mmbuat perencanaan hidup di masa depan. Jangan menjalani hidup mengalir aja kayak air. Gak seru ah! Hidup musti punya goal-goal biar lebih seru.🙂

F : Sudah itu aja? Jadi kita harus punya tujuan keuangan gitu?

A : Sori bung, gak cuma itu. Banyak filosofi di balik kalimat “Tujuan Lo Apa” dari Mbak Wina yang saya tangkap. Bahwa dalam menjalani hidup kita musti punya rencana. Rencana jangka pendek, Rencana Jangka Memengah, dan Rencana Jangka Panjang. Ini berguna biar kita bisa menghadapai segala kemungkinan di masa depan. Membuat perencanaan dapat mengarahkan hidup kita. Ini juga sebagai bentuk syukur atas nikamt yang telah diberikan oleh Allah swt dalam bentuk waktu. Karena, bukankah kita nanti akan dimintai pertanggung jawaban atas nikmat waktu yang telah kita dapatkan.

Intinya gitu lah. Selama ini gue hidup itu dijalani kayak air mengalir gitu aja. Sekarang harus bikin perubahan. Harus bikin tujuan dan target hidup.

Dan di buku ini, Mbak Wina  punya mimpi yang sangat mulia, yaitu mengajak golongan menengah Indonesia untuk membuat perencaan hidup, agar dapat menghadapai masa depan. dengan 100 Langkah, Mbak Wina memberikan kerangka apa saja yang harus dilakukan untuk menghindarkan diri dari kemiskinan. Karena golongan menengah inilah yang jadi motor utama penggerak pembangunan suatu negara.

P.S. : ditulis dalam kondisi yang sudah sangat mengantuk, jadi tak tau arahnya kemana. Zzzzz,,,,,,,

Posted in: Book