Coffee + Dhoni = Dhoffee

Posted on 5 Januari 2012

6


Dari kecil sampai menginjak brondong, saya tidak suka sama yang namanya kopi. Alasannya satu: susah ngilangin bubuknya!πŸ™‚ jaman2 segitu kan saya masih tinggal di kampung, gak ngerti sama teknologi kopi tanpa bubuk.

Setiap ada slametan, biasanya kita dikasih pilihan mau minum kopi atau teh. Dan saya selalu memilih teh.

Ada anggapan yang berkembang, yang saya sering tangkap dari pembicaraan orang-orang di sekitar, bahwa, orang baik-baik a.k.a priyayi tidak doyan kopi. Dan,,, banyak orang yang menganggap aku ini orang yang gak doyan kopi (dan benar). Sehingga, dari sini bisa saya simpulkan, bahwa banyak orang menganggap saya ini priyayi. Haha #SelfToyor

***

Then, work made me lack of energy. I need more power.

One time, when I feel sleepy, I tried a cup of coffee. Wow, It worked!

And then, every time I feel sleepy, I made a cup of coffee.

day by day, I feel in love with coffee.πŸ™‚

Kopi, yang tersedia di kantor, adalah kopi 3 in 1. Sachetan. ada yang tambah susu ada yang tambah krimer.

***

Several month have passed by. And you know, something un-original will came up with boredom.πŸ˜€ Haha *siap-siap ditimpuk*

Saya kok jadi gak doyan sama kopi campur krimer atau susu,,, eneg. pengen yang asli kopi, gak pake campuran.

Dicobalah kopi ini nescafe classic, yang sacetan kecil banget itu. Enaaaakkkk,,,,, bisa menghalau kantuk dengan kopi tanpa enek.

Begitulah, kalo udah telanjur jatuh cinta sama kopi. akhirnya saya cari yang lain. kali aja ada yang lebih enak menurut lidah saya. Percobaan pertama :

Hehehe,,, dengan malu-malu, saya umumkan, bahwa yang ini, yang ada bubuknya ternyata lebih enak di lidah saya daripada yang gak ada bubuknya. Β *muka semu ireng*

Yeah, people change, so do their tongue. LOL!πŸ˜€ Saya yang dulunya gak suka sama sekali dengan bubuk kopi yang ada di cangkir, sekarang malah menggandrunginya.

***

Mulai saat itu, saya mulai menasbihkan diri sebagai pecinta kopi.

Dan rekan seruangan di kantor, Mas Soleh gak pake ah, membawakan kopi tradisional, tjap tjangkir, yang di dapat dari pasar di dekat rumahnya di Salatiga.

Yang ini kopinya rasanya manis. Kental dan saat kopinya sudah mengendap, rasanya kayak mengental gitu airnya. nikmaaat banget.πŸ™‚

***

karena percobaan kopi kapal api pertama sukses, maka Percobaan kedua saya saya jatuh ke kopi ini:

morning blend

tetap enak, tapi ini agak pahit. Saya lebih suka Kopi Kapal api yang special kopi bubuk di atas.

Dan jujur, kenapa saya milih kopi ini adalah karena saya naksir sama kalengnya. HeheπŸ™‚

***

Awal desember tahun lalu, saya pergi ke Medan. di daerah Berastagi, ada warung namanya peceren. Pak Sopir ngajak mampir, mau makan wajik katanya. Dan di sana saya pesen kopi item. kopinya itu butirannya haluuuusss banget. Dan saking halusnya, tidak mengendap. Dan sensanyinya beda dengan kopi bubuk yang mengendap. Enak banget.πŸ™‚

Saya sempet nanya nama kopinya. Tapi sudah lupa. Hehe

Dan saat beli oleh-oleh di Bika Ambon, ada dijual kopi itu di sana, tapi saya ndak beli.

Saat sudah sampai Semarang, jadilah saya menyesal, kenapa gak sekalian beli kopi Medan itu.😦 Saya sampai galau selama 2,5 menit.

Ditengah ke-galau-an itulah, teman saya, namanya Aris, yang kerja di Bengkulu, bilang mau ke Semarang. Dia nanya ke saya, mau oleh-oleh apa, dan dengan tidak sungkan-sungkannya saya bilang minta dibawain kopi sana.πŸ˜€ #gakSopan

Kemarin, Aris dataaaaanggggg,,, dibawakanlah 2 macam kopi ini:

yang ini aku bawa ke kantor. Tadi siang sudah aku coba. Hmmmm, harum dan lumayan enak.πŸ™‚

Kopi kedua ini:

yang ini disimpen dulu. nunggu kapal api morning blend habis.πŸ™‚

***

Post Note:

1. It’s good to know that Steve Jobs also didn’t drink flavored coffee.πŸ™‚ So what?

2. Walaupun saya cinta kopi, saya gak akan pergi ngopi ke setarbak atau luwak. Kecuali kalo GRATIS atau ditraktir. Haha Gile aje masak minum kopi doang habis 50rebu. ;p

3. Di sebuah warung kucingan, saya perna pesan kopi susu. dibuatkanlah sama ibu penjual Indocafe coffe mix. Setelah saya minum, olalaaaaaaa ,,,, O.0 kopi sachetan semanis itu masih ditambahin gula ternyata. Rasanya mual sekali diperut. Aku ngeluh sama ibu penjualnya, udah manis kok ditambahin gula to, bu? Kopinya berkurang gak sampai 1/3-nya. Padahal itu belum saya aduk lo, Gula masih menggumpal di bawah. Saya eneg banget ngerasainnya. Akhirnya beli aqua botol. Hehe

4. Ponakan saya yang namanya Alya, sering minum kopi mbahlik-nya (alias adiknya ibu saya). Hehe #abaikan

***

Sekian

dan terima kiriman kopi item

Posted in: Coffee