banyak Gayus Diantara Kita (part I)

Posted on 13 Februari 2011

0


Gayus, begitu terkenal tokoh ini sejak ditemukannya fakta bahwa dia memiliki kekayaan sebesar 100 eMber lebih!!!!! dan karena dia adalah pegawai pajak, dan karena golongannya baru 3a, dan karena gak mungkin juga dia dapat warisan, dan karena gak logis juga kalau dia punya usaha yang suksesnya kebangetan, dan karena (sekali lagi) dia itu pegawai DJP, gemparlah seantero Indonesia mengetahui fakta tersebut.

The thing is, karena masyarakat Indonesia (yang sangat pintar itu) masih awam (banget, pake kebangetan malah)  perihal perpajakan, ditambah media yang kurang mendukung, jadilah kebanyakan menganggap bahwa: …….. duit gayus yang 100 ember itu didapat dengan modus “Gayus, sebagai pegawai pajak, mengambil (nilep) duit negara dari penerimaan pajak”. Jadiiii,,, dianggap bahwa semua pegawai pajak pasti bisa melakukan hal yang sama. duit pajak yang sudah dibayar Wajib pajak ke rekening bank itu dicairkan sama para pegawai pajak, diambil buat kepentingan pribadi, sehingga pegawai pajak itu kaya-kaya.

eh, tapi masih buanyak yang berpikiran kalo membayar pajak itu di Kantor Pajak. jadi modusnya Gayus jadi gini : ….”masyarakat membayar pajak ke Gayus. lalu sama gayus duit itu diambil sendiri, bukan disetor ke negara.” Nah lho!

Setelah itu jadinya, seakan semua pegawai pajak itu adalah sama dengan Gayus. Bisa beli rumah dan mobil kayak beli Chiki dan Chitatos. Jadinya semua apriori dengan menyamaratakan semua pegawai pajak. Yah, kayak pejabat Amerika tuh, yang nyamain semua orang yang beragama Islam, sebagai,,,, yeah apa yang mereka sebut dengan teroris. Sebel deh. Sampe-sampe bu Sri Mulyani ngomong gini, “we are guilty until we proven innocent.” Senep banget gak sih kalo dah kayak gini???

Baru lulus kuliah, langsung kerja, dengan beban kerjaan yang seabrek-abrek, resikonya gede, tiap hari ketemu orang yang marah gara-gara gak ikhlas bayar pajak, sering lembur (karena banyaknya kerjaan) tanpa upah lembur, ditambah,,,,,, apriori dari masyarakat.ditambah lagi kalo kamu dapat penempatan luar jawa, yang kalo berangkat musti vaksin malaria dulu. Sabaaaaarrrrrrr!!!!!!!!!! Yang penting harus ikhlaaasssss,,,,,,,

***

Kembali ke cerita di atas (okey, saya memang masih harus banyak belajar, cara menulis yang runut dan enak dibaca (dan perlu ( tempo kali))), padahal, modusnya Gayus yang benar adalah seperti ini:

1.       WP memanipulasi laporan biar bayar pajaknya lebih sedikit.

2.       Pemeriksa pajak menemukan hal itu, dan menetapkan SKP atas kekurangan bayar pajaknya.

3.       WP gak terima, trus ngajuin keberatan. (kalo ngajuin keberatan itu ke Kanwil pajak)—karena emang harus bayar segitu, keberatan ini ditolak.

4.       WP masih gak terima, trus ngajuin banding, ini dah bukan ke kantor pajak lagi, tapi ke Pengadilan Pajak. Di sinilah ada kongkalikong antara WP dengan Gayus. Jadi bukan di kantor pajak ya,,, catet!

5.       Gayus sebagai jaksa, disuap sama WP biar WP bayar pajaknya dikit aja. Suka sama suka lah istilahnya.

Trus???? jadi salah siapa?

Kalo gini kan, harusnya yang salah itu si Gayus sama WP yang nakal itu yak an? Iya kaaann???

Kok jadi cuman pegawai pajak aja sih yang disalahiiiinnnn????? WP-WP nakal itu apa dong statusnya??

***

Okey, jadi gw tau, emang masyarakat itu dah muak kali sama yang namanya PNS. Karena kinerjanya yang gak becus, karena masuknya yang pake duit, karena macet, karena jalanan pada rusak, karena bikin KTP musti bayar, karena masih sering banjir, karena sering kena tilang polisi, karena harga-harga terus naik, karena aaarrrrrggghhhhh,,,,, masyarakat sudah tidak kuaaattt menghadapai cobaan ini.

Wahai para pemimpin, buatlah kebijakan yang dapat membuat fix it all.

Posted in: Uncategorized